Mengatasi Hipotermia

Apa Itu Hipotermia???

Hipotermia merupakan kondisi saat temperatur tubuh menurun drastis di bawah suhu normal yang dibutuhkan oleh metabolisme dan fungsi tubuh, yaitu di bawah 35 derajat Celsius. Kondisi ini harus mendapatkan penanganan segera, karena dapat menyebabkan gangguan pada sistem saraf dan fungsi organ lain dalam tubuh. Selain itu, kondisi ini juga dapat berujung pada kegagalan sistem pernapasan, sistem sirkulasi (jantung), dan kematian.

Penyebab Hipotermia

Penyebab umum hipotermia adalah paparan suhu dingin atau air dingin dalam waktu yang lama tanpa perlindungan yang cukup, misalnya akibat:

  • Berada terlalu lama di tempat dingin.
  • Jatuh ke kolam air dingin dalam waktu lama.
  • Mengenakan pakaian yang basah untuk waktu cukup lama.
  • Suhu pendingin ruangan yang terlalu rendah, terutama pada bayi dan lansia.
  • Tidak mengenakan pakaian yang tepat saat mendaki gunung.

Gejala Hipotermia

Beberapa gejala hipotermia, antara lain:

  • Berbicara cadel, bergumam, dan gagap.
  • Bibir berwarna kebiruan.
  • Denyut jantung lemah dan tidak teratur.
  • Kulit bayi dapat berwarna merah terang, dingin, dan tampak sangat tidak bertenaga.
  • Mengantuk atau lemas.
  • Menggigil terus-menerus.
  • Merasa kedinginan.
  • Napas pelan dan pendek.
  • Penurunan kesadaran, seperti kebingungan.
  • Pupil mata yang melebar.
  • Tidak dapat menghangatkan diri.
  • Tubuh menjadi kaku dan sulit bergerak.

 

Jenis-jenis hipotermia

Berdasarkan tingkat keparahannya umumnya hipotermia digolongkan menjadi tiga kelompok yaitu:

1. Hipotermia ringan

Hipotermia ringan merupakan kondisi awal terjadinya hipotermia, pada kasus ini kondisi suhu tubuh seseorang berada pada rentang 32-35°C.

Keadaaan ini juga ada gejala awalnya. Biasanya gejala yang timbul seperti tekanan darah tinggi, menggigil, pernapasan cepat dan detak jantung, pembuluh darah menyempit, kelelahan, gangguan penilaian, dan kurangnya koordinasi.

2. Hipotermia sedang

Ketika mengalami hipotermia  pada derajat keparahan sedang kondisi suhu tubuh seseorang berada pada rentang 27-32°C.

Gejala yang muncul pada hipotermia sedang dapat berupa detak jantung tidak teratur, pernapasan lebih lambat, tingkat kesadaran rendah, pupil melebar, tekanan darah rendah, dan penurunan refleks.

3. Hipotermia berat

Kondisi ini merupakan kondisi darurat, di mana suhu tubuh seseorang berada pada rentang di bawah 27°C. Gejala yang ditunjukkan pada kondisi ini adalah kesulitan bernapas, pupil yang tidak reaktif, gagal jantung, edema paru, dan henti jantung.

Pada kondisi ini penderita harus segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis oleh dokter, agar tidak menyebabkan kematian.

Seseorang yang terserang hipotermia ringan dapat dipulangkan ke rumah setelah suhu tubuh normal kembali. Sedangkan pada seseorang dengan kondisi sedang hingga berat, harus dirawat di rumah sakit untuk diobservasi dan evaluasi lanjutan setelah kondisinya stabil.

 

Mengatasi Hipotermia

Pertolongan pertama yang dapat diberikan kepada seseorang yang terkena hipotermia adalah dengan menghangatkan tubuhnya, agar suhu tubuh kembali normal. Selanjutnya, mengukur denyut nadi, jika tidak ditemukan adanya hal tersebut segera panggil bantuan darurat.

1. Sebelum pertolongan medis tiba:

  • Segera lepas dan ganti baju yang basah dengan yang kering.
  • Gunakan beberapa lapis selimut atau jaket untuk menghangatkan tubuh.
  • Berikan minuman hangat yang tidak mengandung kafein.
  • Hindari paparan angin dan udara.
  • Pindahkan ke area yang dekat dengan sumber panas dan dapat berbagi panas tubuh.
  • Hindari penggunaan panas secara langsung, seperti air panas atau alas penghangat.

2. Setelah pertolongan medis tiba:

  • Menghangatkan saluran pernapasan pengidap dengan memberikan oksigen yang sudah dihangatkan melalui masker dan selang.
  • Memberikan infus berisi larutan salin yang sudah dihangatkan.
  • Mengalirkan larutan yang hangat untuk melewati dan menghangatkan beberapa organ tubuh, misalnya sekitar paru-paru atau rongga perut.
  • Mengeluarkan dan menghangatkan darah pengidap, lalu kembali mengalirkannya ke dalam tubuhnya, dengan menggunakan mesin pintas jantung dan paru (CPB) atau mesin hemodialisis.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *